IT’S OKAY TO NOT BE OKAY: Kisahku Melawan Penyakit Mental
Pertengahan Juni 2011, hari Jum’at pukul setengah 2 siang. Aku baru saja tiba dirumah sehabis ibadah persekutuan Christian English Students Association di kampus. Entah kenapa, seluruh tubuhku terasa sakit dan tulang-tulangku serasa remuk. Jantungku berdetak dengan sangat cepat dan nafas menjadi pendek. Masih dengan kaos kuning bertuliskan Jesus makes my life so colorful dan celana gombrong, Aku terkapar di lantai ruang tengah tanpa mampu menggerakkan ujung jari.
Itu adalah pertama kalinya aku merasakan ada yang berbeda di tubuhku. Sejak saat itu aku selalu merasa sakit di sekujur tubuh, terutama bagian jantung. Badanku terus menerus panas dan bergetar tanpa henti. Muntah dan berbagai simptom lain bermunculan.
“Saya sakit apa dok?”
“Kemungkinan demam rhema. Tapi kita periksa dulu ya.”
Dokter tersebut sangat berhati-hati dalam melakukan pemeriksaan. Setelah beberapa kali check up, dokter menuliskan lembar rujukan.
“Kamu cek laboratorium dulu. Mungkin ini lebih dari sekedar demam rhema.”
“Lalu apa dok?”
Dokter terdiam beberapa saat. “Saya kuatir ini sudah lebih dari demam rhema, tetapi sudah menjadi penyakit jantung rhema. Ini sangat berbahaya dan biasanya, berakhir pada kematian.”
Dokter s*alan. Bisa-bisanya menyampaikan kabar ini secara to the point.
“Tapi untuk memastikannya kita cek lab dulu.”
Sesudah beberapa kali cek ke dokter dan melakukan tes laboratorium, muncullah sebuah diagnosa akhir.
“Aman saja. Hasilnya bagus.”
“Lalu?”
“Kamu menderita penyakit ini,” Dokter menuliskan sebuah kata di kertas. Dia menyodorkannya kepadaku. “Kamu bisa cek di internet nanti untuk lebih lanjutnya,”ucapnya berhati-hati.
Pyschosomatic.
Memang sejak mengalami dua kali kecelakaan pada tahun 2007, daya tahan tubuhku jauh menurun diiringi dengan berbagai macam simptom. Kecelakaan pertama adalah adu banteng antara motor yang dikendarai kakak dan aku yang dibonceng dibelakang dengan sebuah mobil pick up yang melaju kencang. Kecelakaan terjadi sepulang sekolah dan tulang pinggulku retak akibat kecelakaan itu. Tulang rawan yang berada tepat disamping tulang ekor juga retak. Selama seminggu aku hanya bisa menggerakkan kepala dan sesudah 2 minggu, aku mulai bisa duduk di kursi roda. Butuh satu bulan bagiku untuk belajar berdiri dan berjalan sebelum kemudian kembali bersekolah. Pada hari kedua sejak masuk sekolah, sepulang les pelajaran Kimia, aku kembali mengalami kecelakaan (lagi-lagi dibonceng) yaitu tersenggol truk. Kepala bagian belakangku terbentur di aspal.
Sejak saat itu aku terus mengalami sakit kepala hebat, bahkan sering jatuh dari kursi saat belajar di ruang kelas. Aku menjalani terapi dan meminum berbagai macam obat syaraf selama setahun. Sesudah proses medikasi selesai, aku banyak berolahraga dan secara spesifik memilih karate, basket dan tari sebagai kegiatan fisik yang kutekuni. Sayangnya meskipun kondisi kesehatanku berangsur membaik, sakit kepala dan nyeri di tulang belakang tidak pernah meninggalkan tubuhku. Setiap malam aku harus mengatur posisi bantal di pinggul, punggung dan tengkuk senyaman mungkin agar aku bisa tidur.
2011 adalah tahun yang sangat sulit. Selama tujuh bulan aku mengalami mimpi buruk setiap malam dan beberapa kali mengalami transient global amnesia. Sesuai anjuran dokter, aku sempat berkonsultasi dengan beberapa psikolog, namun itu sama sekali tidak membantu. Aku banyak berdoa namun tetap saja setiap hari suicide thought selalu muncul. Karena aku tahu bunuh diri dibenci oleh Tuhan, maka aku berharap agar Tuhan saja yang langsung turun tangan mencabut nyawaku dan dengan demikian membebaskanku dari penderitaan.
Syukurlah, tekad dan hasratku untuk visi sangatlah kuat. Selama delapan tahun terakhir aku memfokuskan seluruh waktu dan energi untuk mengejar mimpi. Ketika aku menangani kasus-kasus dari anak-anak muda yang datang untuk konseling, aku belajar banyak hal. Seorang junior pernah bertanya kepadaku.
“Kakak mengurusi begitu banyak permasalahan dan membantu banyak orang. Aku heran, apakah kakak sendiri nggak punya masalah hidup?”
Aku terdiam dan memikirkan perkataaannya berhari-hari.
Memang kadang ada waktu-waktu up and down, tapi kupikir aku cukup sibuk membantu permasalahan hidup orang lain sehingga aku lupa dengan permasalahan hidupku sendiri. Baru dua tahun terakhir inilah aku mulai mengambil waktu untuk slow down dan meneliti dengan serius kehidupanku sendiri. Saat itulah aku menyadari bahwa aku telah berjuang dengan penyakit mental sejak masih remaja.
Memberikan kata sambutan saat acara SMA.
Jauh sebelum mengalami kecelakaan, yaitu masa-masa SMP, aku ingat bagaimana aku memiliki kepribadian ganda. Di sekolah aku adalah anak yang super aktif dan luar biasa periang, namun setiap malam aku meneteskan airmata di tempat tidur tanpa tahu persis apa yang aku tangisi. Aku ingat masa-masa dimana aku bertingkah aneh dan memiliki emosi yang sangat tidak stabil seperti orang sakit jiwa. Aku juga ingat bahwa aku pernah tanpa alasan mencekik leherku sendiri dengan gesper sembari masih mengenakan seragam sekolah. Benar-benar masa lalu yang mengerikan.
Penyakit mental adalah isu global yang hari-hari ini menjadi sangat serius. Di tahun 2019 saja ada dua orang selebriti Korea yang kuikuti updatenya mati dengan cara bunuh diri. Selama dua tahun terakhir aku melakukan banyak riset dan belajar tentang penyakit mental, simptom dan cara mengatasinya. Beberapa di antaranya pernah ku alami yaitu fobia sosial, personality disorder, psikosomatik dan depresi adalah sakit yang pernahku alami. Setelah mengetahui betapa mengerikannya penyakit mental dan simptom-simptomnya, serta banyaknya berita para publik figur yang bunuh diri akibat depresi, aku bersyukur karena aku tidak menyerah saat penyakit itu kambuh. Lebih dari itu, aku berpikir aku bangga dengan diriku sendiri yang terus maju dan melawan penyakit tersebut.
Akan lebih baik kalau kita mulai berbicara tentang topik ini dan mulai membantu mereka yang membutuhkan. Tidak ada ruginya untuk bersikap ramah kepada semua orang. Memberikan senyum dan pesan singkat berupa dukungan semangat tidaklah terlalu memberatkan. Kalau bisa, berikan juga waktumu. Memang sih ada juga orang-orang yang bersikap ‘lebay’ dan ‘drama', sehingga memanfaatkan kondisinya untuk playing victim agar orang-orang menuruti apa yang ia mau, misalnya dengan ancaman bunuh diri. Percayalah, sangat sulit bagi seseorang yang benar-benar sakit untuk mengatakan kepada orang lain bahwa dirinya sakit. Kupikir lebih baik kalau kita menolong seseorang yang menderita sakit mental bukan dengan alasan agar ia tidak bunuh diri, tapi karena kita benar-benar tulus mengasihi.
“Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” Aku percaya bahwa nasihat ini. Itulah alasan kenapa setahun terakhir aku benar-benar memberikan prioritas kepada kesehatan fisik. Aku berolahraga secara rutin, memperhatikan dietku dengan hanya memakan makanan sehat dan memotong banyak aktivitas dan ‘tanggung jawab’ yang tidak signifikan dan tidak relevan dengan prioritas hidup. Aku belajar menikmati pekerjaan, bukan hanya karena idealisme namun karena aku suka melakukannya. Aku berusaha untuk tidak merasa bersalah ketika memberi waktu bagi diriku sendiri. Pendek kata, aku belajar mencintai diriku sendiri, mengisi hari-hari dengan energi yang positif. Hingga detik inipun aku masih harus terus menjaga kesehatan mentalku dan berhati-hati ketika depresi muncul. Bedanya, sekarang aku tahu bahwa aku tidak sendiri karena ada banyak orang-orang di sekelilingku yang terus mendukung, memberi kekuatan dan banyak cinta.
Dari pengalamanku, ada tiga hal yang sangat membantu dalam perjuanganku menjaga kesehatan mental.
1. Mengakui dan menerima bahwa diri kita sakit
Ini adalah bagian tersulit. Dengan stigma masyarakat yang masih belum open minded tentang kesehatan mental, kita menjadi takut untuk terbuka. Semakin kita memikirkan bahwa kita sakit, semakin kita stress dan down. Kenyataannya, you cannot heal what you don’t reveal. Kamu tidak akan pernah bisa sembuh dari penyakit atau luka yang kamu sembunyikan.
2. Mencari support system
Ini adalah bagian tersulit kedua. Sangat tidak mudah mencari orang yang bisa mengerti keadaan kita. Biasanya orang-orang cenderung suka menasihati dan memberikan ‘siraman rohani’ daripada mendengarkan dan menjadi ‘seseorang yang membantu’. Untuk itu aku sarankan agar kamu mencari komunitas yang memahami perihal kesehatan mental. Saat ini ada banyak akun medsos dan website yang bisa menjadi support system bagi mereka yang struggle.
3. Melakukan treatment
Mental illness adalah penyakit dan bisa diobati. Ada banyak jenistreatment yang bisa dilakukan baik bersama terapis, dalam bentuk medicationmaupun secara pribadi. Saya saat ini lebih fokus kepada olahraga dan diet sehat. Saya juga secara rutin mengambil breakdari medsos. Ada pula banyak buku yang memberikan cara-cara praktis untuk mental care.
Satu lagi, seseorang yang mengalami sakit mental bukanlah orang yang memiliki mental dan iman lemah atau karena tidak dekat dengan Tuhan. Aku bisa menjaminnya. Mereka justru adalah orang-orang yang kuat karena berjuang terus menerus. Orang yang hebat bukanlah orang yang berani mati, melainkan mereka yang berani untuk tetap hidup meski harus berjuang dengan kesehatan mentalnya.
Jikalau kamu bergumul dengan hal yang sama sepertiku, aku cuma mau bilang: it’s okay to not be okay. Nggak apa-apa kalau kamu masih harus berjuang melawan penyakit mental. Dan selalu ingat, bahwa menjaga kesehatan mental adalah sebuah perjalanan. Just be strong and keep loving.
Selamat hari kesehatan mental sedunia
! 10 Oktober 2020